Tujuan Mempelajari Kaligrafi Serta Mengenal Jenis Khat

belajar kursus menulis kaligrafi

Pembelajaran Seni Kaligrafi

Ilmu Seni menulis indah Khat atau biasa kita sebut tulisan kaligrafi arab sudah seharusnya diajarkan di pesantren dan sekolah berbasis agama Islam. Pelajaran kaligrafi haruslah diberikan secara sistematis dan disesuaikan dengan potensi perkembangan siswa. Semisal Untuk taman kanak-kanak (TK) sampai siswa sekolah dasar (SD) atau Madrsah Ibtidaiyah (MI) dengan memberikan kegiatan belajar mewarnai kaligrafi. Dan ditambah menggambar kaligrafi dengan tujuan awal ialah untuk memperkenalkan dan memberikan kesan menyenangkan belajar kaligrafi.

Melanjutkan pelajaran jenjang kelas MI/SD mulai diperkenalkan cara menulis Khat Naskhi yang bagus tanpa terlalu terikat dengan patokannya. Kemudian Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTS) pelajaran dimulai lagi dengan Khat Naskhi secara serius mengikuti rumusan menulis yang benar dan mengenal jenis khat lainnya.

Melanjutkan program Pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau Madrasah Aliyah (MA) sudah bisa mulai diberikan pelajaran Khat yang lain. Mulai mengenal Khat stulus, Diwani, Farisi dan Qufi. Pada tahap ini adalah tahap pembelajaran paling intensif memperdalam dan memahirkan kualitas keterampilan siswa.

kelas menulis kaligrafi

Tujuan Utama Program Pembelajaran Kaligrafi

Kita harus Memahami tentang pentingnya Pembelajaran kaligrafi. Program belajar memiliki tujuan guna mengembangkan potensi, sikap dan keterampilan pelajar.

Secara Umum Tujuan Pembelajaran Kaligrafi bisa kita jabarkan sebagai berikut:

  • Mengembangkan kemampuan dan keterampilan melalui jenis, bentuk, sifat fungsi, alat, bahan, proses dan teknik dalam membuat produk karya seni.
  • Mengembangkan kemampuan intelektual, imajinatif, ekspresif, estetik, kreatif, kepekaan menghargai terhadap hasil karya seni.
  • Secara estetis, kaligrafi memiliki unsur keindahan hias serta kekayaan ragam aksesoris yang menumbuhkan rasa estetika.
  • Keindahan kaligrafi memudahkan informasi dan komunikasi.

belajar kursus menulis kaligrafi

Mengenal Jenis-jenis Kaligrafi (Khat)

Khat kaligrafi terbagi dalam beberapa kategori. Menurut ketentuan baku dalam seni tulis Arab murni (Khat) dikenal ada beberapa jenis. Dalam buku ushul at-tadris al-‘Arabiyah, Abdul Fattah menyebutkan bahwa Khat terdiri dari 8 kategori. Yaitu Khat Qufi, Tsulus , ta’liq (al-farisi), diwani, ijazah, (tauqi’), thughra, huruf al-taj, riq’ah, naskhi. Delapan jenis kaligrafi yang sudah lazim kita dengar yaitu; Qufi, naskhi, tsulus, rayhani, diwani, diwani jaly, farisi dan riq’ah.

Read Related Articles:  Hukum Kaligrafi Masjid

Berikut ini adalah penjelasan singkat jenis Khat tersebut:

  1. Khat Qufi. Menurut sejarawan Arab bentuk Khat ini adalah dari zaman Nabi Ismail as. Kemudian disempurnakan lagi pada abad ke-1H. Oleh Quthbah Al-muharrir di Damaskus. Dalam beberapa literatur Khat ini lahir di kota Kuffah (Baghdad). Namun Khat ini pernah berjaya di Hirah, Raha dan Nasiban sebelum lahirnya kota Kuffah. Tokoh yang dikenal pencipta Khat} ini adalah Quthbah Al-muharrir. Ciri-ciri Khat ini adalah: bentuknya tegak, kaku (angular) seperti kotak atau balok. Khat Qufi memiliki beberapa bentuk atau model. Menurut Al-faruqi, Khat Qufi terbagi menjadi tiga bentuk yaitu: Qufi Musyajjar (Floriated Kuft), Qufi Mudaffar (Plaited Kuft) dan Qufi Muraba’ (Squared Kuft).
  2. Khat Naskhi. Secara etimologi nama Naskhi berasal dari kata kerja nasakha yang berarti “telah menghapus”. Diartikan demikian
    karena tulisan ini telah menghapus tulisan yang telah ada dan berkembang sebelumnya yaitu Qufi. Selain itu dapat pula diartikan “menyalin”. Hal ini disebabkan tulisan tersebut biasanya untuk menyalin atau menulis mushaf Al-qur’an, Kitab agama dan naskah ilmiah. Ada pula yang mengartikan nasakha adalah “melengkung (cursife) dan miring yang secara langsung membedakannya dengan tulisan Qufi yang kaku dan bersudut. Khat jenis ini ditemukan oleh Ibnu Muqlah (272 H) di Baghdad, Irak dan disempurnakan oleh Ibnu Al-Bawwab dan Ya’qut Al-musta’simi pada abad ke-10 hingga menjadi tulisan resmi Al-qur‟an. Ciri-ciri Khat ini adalah lengkungan pada hurufnya seperti busur dan setengah lingkaran.
  3. Khat Tsulus. Nama tsulus diambil dari bahasa Arab tsulusi yang berarti sepertiga. Ditemukan oleh Ibnu Muqlah (272 H). Khat} tsulus dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu tsulus ‘Adi dan tsulus Jaly.
  4. Khat Riq’ah. Istilah riq‟ah berasal dari kata riqa’ yang merupakan bentuk jamak dari kata riq’ah yang berarti “potongan atau lembaran daun halus”. Konon para kaligrafer pernah menggunakan benda ini sebagai media tulisannya. Diciptakan oleh seorang kaligrafer Turki, Abu bakar Mumtaz Bek dan disempurnakan oleh Syekh Hamdullah Al-amsani (833-926 H). Khat ini berkembang pesat pada masa dinasti Usmani di Turki abad ke-2H.
  5. Khat Diwani. Merupakan suatu corak tulisan resmi kerajaan Ustmani. Jenis tulisan ini berkembang pada penghujung abad ke-15M. Yang merupakan usaha salah satu kaligrafer Turki, Ibrahim Munif dan disempurnakan oleh Syekh Hamdullah Al-masi.
  6. Khat Diwani Jaly. Merupakan perkembangan dari Khat Diwani. Khat diwani jaly disebut juga Khat humayuni atau Khat muqaddas. Khat ini memiliki corak berlebihan dibanding Khat diwani, sehingga lebih menonjolkan segi hiasannya ketimbang segi ejaannya.
  7. Khat Rayhani. Rayhani berarti harum semerbak. Khat ini merupakan pengembangan dari Khat Naskhi dan Khat tsulus. Khat ini banyak digunakan dalam penelitian buku agama maupun mushaf Al-qur’an. Ditemukan pertama kali oleh Ali ibnu Al-ubaydah Al-rayhani dan dikembangkan oleh Ibnu Al-bawwab.
  8. Khat Farisi. Menurut sejarah Khat Farisi berasal dari Khat Qufi dan banyak berkembang di Persia, Pakistan, India dan Turki. Banyak digunakan untuk penelitian buku, majalah, surat kabar dan sebagainya. Khat ini dikembangkan oleh Abdul Havy, Abdurrahman Al-Khawarizm, Abdurrahim Anisi dan Abdul Karim Padsyah. Menurut sebagian pendapat, Khat ini pertama kali ditemukan oleh Mir Ali Sultan Al-Tabrizia.