Cak Mukhlas Turun Gunung (back to calligrapyc world)

jasa penulis kaligrafi masjid

Kembali Ke Dunia Seni Kaligrafi

Setelah beberapa tahun (1995-2000) berkecimpung di dunia kaligrafi, Cak Mukhlas banyak memperoleh berbagai pengalaman. Dari mulai dari lomba-lomba kaligrafi baik tinggkat kecamatan sampai tingkat nasional, atau proyek-proyek pengerjaan kaligrafi di berbagai tempat dan media pengerjaan.

  • Tahun 1995, lomba Kaligrafi pada MTQ tingkat Kecamatan Ciputat
  • Tahun 1995, lomba Kaligrafi pada MTQ tingkat Kabupaten Tangerang
  • Tahun 1995, lomba Kaligrafi pada MTQ tingkat Kodya Tangerang
  • Tahun 1996, lomba Kaligrafi pada MTQ tingkat propinsi Jawa Barat
  • Tahun 1997, lomba Kaligrafi pada MTQ tingkat Nasional di Jambi
  • Tahun 1997, Pengerjaan Kaligrafi Masjid Al Mahdiyyin, Nagrek, Bandung
  • Tahun 1999, Pengerjaan Kaligrafi Masjid Agung Baiturrahman, Gorontalo
  • Tahun 1999, Pengerjaan Kaligrafi Masjid Agung Al Azhar, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan
  • Tahun 1999, Membuat souvenir kaligrafi diatas emas murni, bekerja sama dengan ICMI (Bidang Pemberdayaan Wanita) dan pengusaha Korea
  • Tahun 2009, pengerjaan kaligrafi ukir di Jember
  • Tahun 2014, pengerjaan dekorasi permanen Arena MTQ Kepri di Tanjungpinang
  • dan berbagai pengalaman kaligrafi lainnya

Pada awal tahun 2001, setelah menikah, Cak Mukhlas pindah ke Jawa Timur dan tinggal di Jember. jarak yang jauh dari Jakarta dan belum canggihnya komunikasi seperti sekarang ini membuat frekuensi aktifitasnya dalam kaligrafi menurun. Sampai pada tahun 2003, ditawari untuk bekerja sebagai desainer grafis di penerbitan buku di Jogjakarta. Dilanjutkan dengan bekerja di PT. Temprina Media Grafika (Jawa Pos Group) mulai akhir 2004. Praktis, karena kesibukannya, aktifitas berkaligrafi tidak bisa lagi dilakukan. Hanya ketika kerinduan berkaligrafi sudah memuncak dan tangan sudah gatal ingin menorehkan huruf dia sempatkan menggores satu atau dua huruf. Di laci meja kerjanya selalu tersedia kalam (pena dari batang paku handam, sejenis tumbuhan perdu pakis-pakisan) dan tinta.

Read Related Articles:  Tulisan Kaligrafi Di Masjid

Hingga tahun 2009, seorang kawan yang dulu pernah belajar kaligrafi pada Cak Mukhlas (Mas’ud) mendapat order proyek kaligrafi. Mas’ud yang belum berpengalaman mengerjakan kaligrafi di kubah, meminta Cak Mukhlas untuk membantunya. Inilah awal mulai bergejolaknya kembali gairah berkaligrafi. Setelah sukses mengerjakan kubah, dilanjutkan pengerjaan mihrab (tempat imam). Pihak masjid menyerahkan sepenuhnya pada Cak Mukhlas, mihrab akan dibuat seperti apa. Bagai api yang disiram minyak, gairah yang makin bergejolak disambut tantangan untuk membuat karya yang monumental. Terinspirasi masjid Al Hambra, sementara disekitar masjid banyak terdapat produksi pembuatan genteng dari tanah liat, maka coba direncanakan untuk membuat relief dari keramik. Namun karena peliknya proses, maka rencana tersebut gagal dilakukan. Akhirnya dibuatlah ukiran pada kayu jati.

Read Related Articles:  Sejarah Kaligrafi Islam Dunia Dan Indonesia

Kaligrafi_Ukir_Kayu_Jati_mihrab

Kosongnya aktifitas kaligrafi sekian tahun lamanya ternyata tidak membuat Cak Mukhlas kehilangan sense  yang dulu pernah digelutinya. Terbukti ukiran kayu yang dibuatnya bersama seorang ahli ukir jebolan sekolah ukir di Pacitan, mampu menampilkan desain yang original. Desain ukiran ini memadukan seni klasik islam sebagai falsafah kehidupan dengan ragam ukir majapahit, ragam klasik Jawa yang sudah jarang sekali ditemui sebagai latar belakang kearifan budaya lokal.

Dengan pengalaman di bidang kaligrafi yang cukup diakui oleh kolega sesama kaligrafer, diramu dengan pengalaman di bidang desain grafis computer, menjadikan beliau seniman yang multi talenta. Beliau bisa memadukan antara seni rupa dengan seni digital yang keduanya sarat dengan pengalaman dan prestasi, perpaduan yang jarang ditemui dalam diri seorang seniman.